Selasa, 17 Agustus 2010

Sekuntum Mawar Tertunduk Malu




kala sentuhan manjamu menggerayangi hati
seketika menyulap api neraka sesegar embun pagi
kala tanganmu rengkuh sendi-sendi
rapuh bagiku hanya angan belaka

kala kutunggu September tergeletak
liarmu ‘kan terus kukejar
sampai hatimu menjadi
sekuntum mawar tertunduk malu
di hadapanku kelak


Medio September, 2009

1 komentar: