
Doa buat Indonesia
Tuhan...tuhan...
Aku masih mengalirkan bahasa bunga
Dan doa-doa di atas tanah yang meretak
Ribuan airmata bayi dan ibu-ibu tua perlahan berubah menjadi abu
Adalah negeriku
Tuhan... tuhan...
Apakah ini namanya selain kedukaan yang menyala-nyala.
Segala sesuatu berdebu, aku berdebu, mereka berdebu
Oleh duka
Ada gempa, banjir, kemarau panjang, penculikan,
Jarah, pemerkosaan.
Dunia jadi batu
Aku berdebu, engkau berdebu, mereka berdebu.
Tuhan... Tuhan...
Masih kudengar lantunan nyanyian dari ujung tanah.
Dari negeri Mapenduma Papua, Pidie Aceh, lautan indah Amboina
Suara berserak, melantunkan lafadz dan doamu
Berlembar-lembar sejarah
Telah mengalir di darah kita
Tak hanya di museum bisu
Karena Beribu kertas sejarah telah mencatat
Duka Tanjung Priok, Tragedi Sampang. Kesedihan Banyuwangi,
Teriakan Semanggi, Airmata Poso,
dengan pena dan tinta apa harus kualirkan bahasa airmata kepadamu?
Sedangkan tangis mereka telah memawar dalam ribuan jendela mimpi.
Kita terkepung oleh duka pertanggungjawaban yang tak kunjung usai.
Tak ada yang mengalir lagi di jantung kita
Kecuali airmatamu
Tak ada yang menangis di nadi kita
Kecuali dukamu
Langit berwarna merah saga, adalah tangis Mu
Adalah tangisMu
Adalah tangis kita.
menjadi makammu,
menjadi makamku
Menjadi makam kita.
: menjadi makam duka manusia.
Kita terus mengeja kepenatan kanak-kanak akan kekerasan
Kedinginan dan letih sangsai dari pengemis jalanan
Duka mengalir di jalan-jalan
Dari piring para gembel yang masih mencomoti nasi sisa-sisa
Kemarin malam
Sebuah episode duka yang tak kunjung selesai
Mendung adalah pagelaran tari
Dari sebuah notasi-notasi kebiadaban
Namun ekstase kesedihan dari kaum papa
masih akan terus merasuki
matamu, memecah gendang telingamu,
membuncah nafsumu.
Mereka adalah cerita yang tak pernah selesai
Mereka mengalir
Di antara banjir-banjir
Dan di antara jerit kelaparan
Atau mungkin musim kemarau yang panjang.
Tuhan
Aku begitu lelah membaca Indonesia
Namun tetap berusaha membaca Indonesia
Seperti membaca putih tulang
dan merahnya bendera kita
sebab nurani terlanjur mengalir di dalam darah ini
terlanjur ada kesadaran
dan doa sesungguhnya adalah tapa yang panjang.
Kami masih mencatat doa-doa
Dan terus mencatat
Walau tak pernah selesai,
Tak mengenal kata selesai
Sebab doa adalah catatan sebuah pertanggungjawaban
Yang memang tak akan pernah bisa usai
Jakarta, 1998- 2002
Sajak: Sihar Ramses Simatupang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar